PLN Sumber Kehidupan, Sering Mati, Jantung Ekonomi Lumpuh

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 26 Oktober 2025 - 08:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laporan Khusus: Redaksi Globaljambi.co.id

KERINCI – Di era digital seperti sekarang, listrik bukan lagi sekadar penerang malam. Ia adalah denyut kehidupan. Namun di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, “denyut” itu kini sering terhenti.

Beberapa bulan terakhir, masyarakat di dua daerah yang bertetangga ini mengeluhkan pemadaman listrik yang terjadi berulang kali. Tak tanggung-tanggung, pemadaman bisa berlangsung hingga 12 jam penuh, bahkan pernah sampai berhari – hari. Alasannya selalu seragam: “pemeliharaan jaringan.” Namun di balik kata “pemeliharaan” itu, tersimpan realitas getir: aktivitas ekonomi warga benar-benar lumpuh.

Ketika Listrik Padam, Kehidupan Ikut Redup

Bagi masyarakat perkotaan seperti Sungai Penuh, mati listrik bukan hanya soal gelapnya ruangan. Ketika daya padam, air PDAM ikut berhenti karena mesin pompa tak berfungsi. Warung, toko, dan kafe digital yang bergantung pada jaringan internet otomatis tutup. Lebih parah lagi, sinyal seluler ikut menghilang total karena tower komunikasi kehilangan pasokan daya.

Artinya, komunikasi terputus, transaksi digital berhenti, dan roda ekonomi benar-benar macet. “Kalau mati lampu lama, kami nggak bisa jualan online. ATM mati, sinyal hilang, air nggak hidup. Semua serba lumpuh,” kata Beni, pelaku usaha kecil di Kerinci.

Bagi warga pedesaan, dampaknya lebih dalam lagi. Para petani yang mengandalkan pompa air listrik terpaksa berhenti bekerja. Sementara bengkel, usaha las, dan percetakan di Sungai Penuh memilih tutup lebih awal karena tak sanggup beroperasi dengan biaya genset yang mahal.

Baca Juga :  Wako Alfin Launching Digitalisasi Legalitas Kotak Amal dengan Sistem QR Barcode

PLN: Antara “Pemeliharaan” dan “Keharusan Publik”

Secara teknis, PLN memang memiliki tanggung jawab melakukan pemeliharaan jaringan agar pasokan listrik tetap stabil. Namun ketika pemeliharaan justru berulang dan tanpa informasi dan bukti yang jelas, publik berhak mempertanyakan efektivitas manajemennya.

Sejumlah warga menilai, PLN perlu berbenah, bukan hanya secara teknis, tetapi juga dalam hal komunikasi dan kepekaan sosial. “Pemeliharaan itu penting, tapi masyarakat juga butuh kepastian. Jangan setiap mati lampu alasannya pemeliharaan tanpa bukti yang konkrit,” ujar Dedi Dora, Pengamat Kebijakan Publik Provinsi Jambi.

Ia menambahkan, PLN bukan hanya perusahaan penyedia energi, tapi juga penopang utama peradaban modern. “Ketika PLN tidak berfungsi dengan baik, maka ekonomi, pendidikan, bahkan kesehatan ikut terganggu,” ujarnya.

Warga Desak Evaluasi Kinerja PLN Sungai Penuh

Berkali-kali pemadaman dengan durasi panjang membuat warga mendesak adanya evaluasi terhadap kinerja Kepala PLN Sungai Penuh. Mereka menilai, perlu ada manajemen yang lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat dan kondisi lapangan.

“Ini bukan sekadar masalah teknis, tapi soal tanggung jawab publik. Kalau pelayanan sering bermasalah, seharusnya dilakukan evaluasi menyeluruh,” tegas Dedi Dora.

Baca Juga :  Langkah Bupati Kerinci Monadi, Getar Petani

Ia juga menyoroti pentingnya PLN membuka kanal komunikasi yang lebih cepat dan transparan, agar masyarakat bisa mengetahui kapan pemadaman terjadi dan berapa lama berlangsung, serta memberikan bukti berbentuk fhoto usai melakukan pemeliharaan.

Ketika Terang Jadi Kemewahan

Di tengah gencarnya kampanye digitalisasi ekonomi dan layanan publik berbasis teknologi, pemadaman listrik berkepanjangan adalah ironi besar.
Sebuah paradoks di tengah upaya pemerintah mendorong transformasi digital, namun infrastrukturnya masih rapuh di lapangan.

“Listrik itu bukan sekadar cahaya. Ia simbol kemajuan, keadilan, dan keberlanjutan. Ketika terang menjadi kemewahan, maka tanda tanya besar muncul: di mana kehadiran negara dalam menjamin hak dasar masyarakat?” ucapnya.

Harapan: Bukan Sekadar Janji Perbaikan

Masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh tak menuntut lebih. Mereka hanya ingin hidup normal, tanpa ketakutan bahwa listrik akan mati di tengah aktivitas penting.
Mereka berharap, PLN benar-benar melakukan evaluasi internal dan memperkuat sistem distribusi agar kejadian serupa tak lagi berulang.

Karena bagi mereka, listrik bukan sekadar energi. Ia adalah kehidupan.
Dan ketika sumber kehidupan itu sering padam, maka jantung ekonomi dan bahkan peradaban kut terhenti.(Adi)

Berita Terkait

Tender RSUD Kerinci Tuntas, Bupati Monadi: Hadiah Bahagia untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Ajang Bergengsi Tuai Kontroversi, Para Juara Asia MX Kecewa Hadiah Tak Sesuai
Wabup Murison Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Tegaskan Pancasila Perekat Persatuan Bangsa dan Fondasi Perdamaian Dunia
Wako Alfin Naik ke Menara Masjid Raya Sungai Penuh, Mengingat Sejarah Pengibaran Merah Putih Pertama di Kerinci
Al Haris Respon Cepat Fly Over Sungai Penuh–Tapan dan Kerinci–Bungo, Publik Bertanya: Janji yang Kesekian Kalinya?
Ini Perkiraan Harga Tiket Batik Air Muara Bungo–Jakarta
Batik Air Rute Muaro Bungo–Jakarta Resmi Dimulai, Ini Jadwalnya Hingga Jumlah Penumpang
Kerinci dan Sungai Penuh Dukung Batik Air Beroperasi di Bandara Muara Bungo
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 22:37 WIB

Tender RSUD Kerinci Tuntas, Bupati Monadi: Hadiah Bahagia untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Senin, 1 Juni 2026 - 13:30 WIB

Ajang Bergengsi Tuai Kontroversi, Para Juara Asia MX Kecewa Hadiah Tak Sesuai

Senin, 1 Juni 2026 - 11:25 WIB

Wabup Murison Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Tegaskan Pancasila Perekat Persatuan Bangsa dan Fondasi Perdamaian Dunia

Senin, 1 Juni 2026 - 08:00 WIB

Wako Alfin Naik ke Menara Masjid Raya Sungai Penuh, Mengingat Sejarah Pengibaran Merah Putih Pertama di Kerinci

Minggu, 31 Mei 2026 - 13:12 WIB

Al Haris Respon Cepat Fly Over Sungai Penuh–Tapan dan Kerinci–Bungo, Publik Bertanya: Janji yang Kesekian Kalinya?

Berita Terbaru