GLOBALJAMBI.CO.ID – Pemerintah Kecamatan Depati Tujuh langsung bergerak cepat menjalankan instruksi Bupati Kerinci terkait program nasional penanganan sampah. Camat Depati Tujuh bersama Pemerintah Desa Belui menggandeng mahasiswa STIKIP Muhammadiyah untuk memulai aksi pemilahan sampah organik dan non organik di Desa Belui, Kecamatan Depati Tujuh.
Langkah ini sekaligus menjadi tindak lanjut hasil Rapat Dengar Pendapat bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kerinci mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Selain itu, program tersebut juga menjadi bagian dari target pemerintah daerah yang menetapkan satu desa di Kecamatan Depati Tujuh sebagai percontohan pemilahan sampah sebelum di buang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan mahasiswa, masyarakat kini mulai memahami pentingnya memilah sampah rumah tangga sejak dari sumbernya.
Camat Depati Tujuh Langsung Gelar Rapat Koordinasi
Setelah menerima arahan dari Pemerintah Kabupaten Kerinci, Camat Depati Tujuh, Indra Hermawan, langsung menggelar rapat koordinasi bersama Kepala Desa Belui dan mahasiswa STIKIP Muhammadiyah.
Dalam rapat tersebut, seluruh pihak menyusun langkah teknis pemilahan sampah organik dan non organik sebelum petugas mengangkut sampah menuju TPS. Selain itu, mereka juga membahas pola edukasi kepada masyarakat agar program berjalan secara konsisten.
Tidak hanya itu, pemerintah kecamatan juga mendorong seluruh perangkat desa untuk aktif turun ke lapangan memberikan sosialisasi kepada warga. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya membuang sampah, tetapi juga memahami cara pengelolaan sampah yang benar.
Camat Depati Tujuh, Indra Hermawan, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan penanganan sampah di wilayah tersebut.
“Kami ingin membangun budaya baru di tengah masyarakat. Sampah bukan lagi sesuatu yang langsung di buang begitu saja, tetapi harus dipilah sejak dari rumah. Dengan langkah sederhana ini, lingkungan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk generasi mendatang,” ujar Indra Hermawan.
Desa Belui Jadi Contoh Pengelolaan Sampah di Kecamatan Depati Tujuh
Pemerintah Desa Belui menunjukkan keseriusan dalam menangani persoalan sampah. Bahkan, program pengelolaan sampah sudah mulai berjalan sejak tahun 2025 lalu.
Kepala Desa Belui bersama jajarannya terus mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan melalui aksi nyata. Karena itu, Desa Belui kini di percaya menjadi desa percontohan pemilahan sampah organik dan non organik di Kecamatan Depati Tujuh.
Selain melakukan pemilahan sampah rumah tangga, pemerintah desa juga mendorong pemanfaatan sampah organik menjadi kompos. Sementara itu, sampah non organik di kumpulkan secara terpisah agar lebih mudah dikelola.
Langkah tersebut mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Terlebih lagi, warga mulai merasakan manfaat lingkungan yang lebih bersih dan tertata.
Mahasiswa STIKIP Muhammadiyah Ikut Edukasi Masyarakat
Mahasiswa STIKIP Muhammadiyah turut mengambil peran penting dalam program ini. Mereka membantu pemerintah desa memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya memilah sampah sejak dari rumah.
Selain memberikan sosialisasi, mahasiswa juga ikut mendampingi warga saat proses pemilahan sampah berlangsung. Kehadiran mahasiswa di nilai mampu meningkatkan semangat masyarakat, terutama kalangan muda, untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Di sisi lain, kolaborasi antara pemerintah dan mahasiswa menjadi contoh positif dalam membangun kesadaran lingkungan secara bersama-sama. Oleh sebab itu, program ini di harapkan mampu menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Kerinci.
Pemerintah Kecamatan Depati Tujuh optimistis program pemilahan sampah tersebut mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPS. Bahkan, mereka menargetkan terciptanya lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan dalam beberapa tahun ke depan.









