GLOBALJAMBI.CO.ID – Keluhan petani terkait berkurangnya debit air Irigasi Kasigi di Kecamatan Depati Tujuh akhirnya mendapat perhatian serius dari pemerintah kecamatan. Camat Depati Tujuh, Indra Hermawan, bergerak cepat turun langsung ke lapangan menyikapi persoalan penyekatan aliran air yang menyebabkan sejumlah sawah kekurangan pasokan.
Berdasarkan pantauan, berkurangnya aliran air dipicu oleh banyaknya sekat yang dibuat masyarakat di sekitar Desa Tebat Ijuk, Desa Baru Kubang, hingga adanya penyekatan di Irigasi Koto Majidin. Kondisi tersebut membuat distribusi air tidak merata dan berdampak pada lahan pertanian warga di hilir. Akibatnya, sebagian petani terancam gagal tanam bahkan mengalami keterlambatan masa tanam padi.
Melihat situasi ini, Camat Indra Hermawan langsung melakukan koordinasi dengan perangkat desa, tokoh masyarakat, serta kelompok tani untuk mencari solusi bersama agar tidak terjadi konflik antarwilayah.
Salah satu langkah yang diambil adalah pembagian jadwal pengairan secara bergilir agar seluruh desa tetap mendapatkan hak air secara adil.
Skema yang diusulkan yakni:
12 jam aliran untuk Desa Koto Majidin
12 jam berikutnya untuk desa-desa lain di Kecamatan Depati Tujuh yang dialiri Irigasi Kasigi
Sistem ini dinilai sebagai solusi paling adil untuk menjaga keseimbangan kebutuhan air pertanian.
Indra Hermawan menegaskan bahwa air irigasi merupakan kebutuhan bersama yang harus dijaga secara kolektif, bukan dikuasai sepihak. “Air irigasi ini adalah sumber kehidupan bagi seluruh petani, bukan hanya untuk satu desa atau satu kelompok saja. Kalau ada penyekatan sepihak, tentu dampaknya akan dirasakan saudara-saudara kita di hilir. Kita tidak ingin ada petani yang gagal tanam hanya karena distribusi air tidak adil.”
Ditambahkannya bahwa Pemerintah kecamatan hadir bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mencari solusi terbaik. Kita dorong pola gotong royong dan kebersamaan. Dengan sistem pembagian waktu 12 jam–12 jam, semua desa tetap mendapatkan haknya. Ini soal keadilan dan rasa saling peduli.
“Saya berharap masyarakat dapat membuka sekat-sekat yang menghambat aliran dan mematuhi jadwal yang telah disepakati bersama. Kalau kita kompak, insyaAllah kebutuhan air tercukupi dan hasil panen juga maksimal.” ucapnya.
“Mari kita jaga irigasi ini sebagai aset bersama. Jangan sampai karena kepentingan sesaat, hubungan antarwarga menjadi renggang. Pertanian kuat, ekonomi masyarakat juga ikut kuat.” tambahnya.
Dengan langkah cepat tersebut, masyarakat berharap persoalan kekurangan air dapat segera teratasi sehingga musim tanam tetap berjalan lancar dan produksi padi di Kecamatan Depati Tujuh tetap optimal.(Adi)









