GLOBALJAMBI.CO.ID – Perjuangan panjang menembus hutan, menyusuri jalur terjal, dan menghadapi tantangan alam akhirnya mengantarkan Bupati Kerinci, Monadi, S.Sos., M.Si., menuju puncak Gunung Kerinci. Bersama 28 pemuda tangguh, ia membawa semangat persatuan dan nasionalisme hingga ke atap Pulau Sumatra.
Namun, perjalanan ini bukan sekadar tentang menaklukkan ketinggian. Monadi membawa misi kebangsaan yang istimewa. Membacakan Teks Sumpah Pemuda di puncak gunung tertinggi di Pulau Sumatra dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026.
Momen tersebut menghadirkan pesan kuat bagi generasi muda. Dari puncak yang menjulang sekitar 3.805 meter di atas permukaan laut (MDPL), Monadi dan para peserta mengingatkan masyarakat bahwa semangat persatuan membutuhkan keberanian, perjuangan, dan tindakan nyata.
Gunung Kerinci sendiri memiliki keistimewaan luar biasa. Selain menjadi gunung tertinggi di Pulau Sumatra, gunung berapi ini juga menyandang predikat tertinggi di Indonesia dan Asia Tenggara.
Dari Pintu Rimba, Monadi Memulai Perjalanan Penuh Tantangan
Selasa, 27 Oktober 2026, menjadi awal perjalanan yang menyatukan semangat kepemimpinan dan jiwa kepemudaan. Dari Pintu Rimba, Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Monadi bersama 28 pemuda tangguh memulai pendakian menuju puncak Gunung Kerinci.
Di hadapan mereka, jalur hutan membentang dengan segala tantangannya. Pepohonan tinggi menaungi perjalanan, sementara tanjakan demi tanjakan menuntut kekuatan fisik dan ketahanan mental.
Setiap langkah membawa mereka semakin jauh dari titik keberangkatan. Namun, semakin tinggi perjalanan, semakin besar pula tuntutan untuk menjaga stamina, mengatur langkah. Dan memperhatikan keselamatan seluruh anggota rombongan.
Di tengah perjalanan, kebersamaan menjadi kekuatan utama. Para pendaki harus menjaga kekompakan, saling memberikan semangat, dan menyesuaikan langkah. Agar seluruh rombongan dapat melanjutkan perjalanan dengan baik.
Bagi Monadi, perjalanan ini bukan hanya tentang tanggung jawab sebagai kepala daerah. Ia juga ingin menunjukkan bahwa semangat perjuangan membutuhkan keteladanan dan keberanian untuk menghadapi tantangan.
Sebab, setiap perjalanan besar selalu menuntut tekad yang kuat. Begitu pula perjuangan membangun daerah, yang membutuhkan kerja sama. Konsistensi, dan komitmen dari seluruh elemen masyarakat.
Menembus Jalur Terjal, Membawa Semangat Persatuan ke Atap Sumatra
Semakin tinggi para pendaki melangkah, semakin besar tantangan yang harus mereka hadapi. Jalur terjal, perubahan kondisi alam, dan kebutuhan menjaga stamina menuntut kedisiplinan sepanjang perjalanan.
Meski demikian, rombongan membawa tujuan yang lebih besar daripada sekadar mencapai puncak. Mereka ingin menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda melalui sebuah aksi yang sarat makna kebangsaan.
Sebanyak 28 pemuda tersebut berasal dari berbagai unsur, mulai dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Organisasi perangkat daerah (OPD), Bank Jambi Cabang Kerinci, hingga Komunitas Trekking Indrapura.
Perbedaan latar belakang justru memperkuat pesan kegiatan ini. Mereka menempuh jalur yang sama, menghadapi tantangan bersama, dan menyatukan tekad. Untuk membawa semangat Indonesia ke puncak Gunung Kerinci.
Selain itu, perjalanan tersebut mengingatkan bahwa persatuan tidak cukup hanya melalui kata-kata. Setiap orang perlu menunjukkan kepedulian, menjaga kepercayaan, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan ikrar para pemuda pada 28 Oktober 1928. Saat itu, para pemuda Indonesia menegaskan tekad untuk menjunjung satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.
Kini, hampir satu abad setelah peristiwa bersejarah itu, Monadi bersama para pendaki membawa pesan serupa ke salah satu titik tertinggi Nusantara.
Dengan demikian, pendakian ini tidak hanya menguji ketangguhan fisik. Lebih dari itu, perjalanan tersebut mengajak generasi muda memahami bahwa persatuan membutuhkan tindakan nyata. Terutama ketika bangsa menghadapi berbagai tantangan zaman.
Sukses Mencapai Puncak, Monadi Kumandangkan Ikrar Sumpah Pemuda
Setelah menempuh perjalanan panjang, rombongan akhirnya mencapai puncak Gunung Kerinci. Perjuangan melewati jalur pendakian pun mengantarkan mereka menuju momen utama. pembacaan Teks Sumpah Pemuda di atap Pulau Sumatra.
Bayangkan suasana di ketinggian tersebut. Di tengah bentang pegunungan yang megah, Monadi menggemakan ikrar persatuan. Yang telah mengikat bangsa Indonesia selama puluhan tahun.
Kata-kata tentang tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia membawa makna mendalam ketika para peserta mendengarnya di puncak Gunung Kerinci. Di tempat yang menuntut keberanian dan ketangguhan, mereka kembali mengingat bahwa persatuan menjadi fondasi penting bagi masa depan Indonesia.
Momen ini juga mempertemukan dua semangat perjuangan. Pertama, perjuangan para pendaki yang mengerahkan tenaga dan tekad untuk mencapai puncak. Kedua, perjuangan generasi muda yang harus terus menjaga persatuan, mengembangkan potensi, dan memberikan kontribusi bagi bangsa.
Bagi masyarakat Kerinci, keberhasilan Monadi bersama 28 pemuda tangguh menghadirkan kebanggaan tersendiri. Gunung Kerinci bukan hanya ikon alam dan kebanggaan daerah, tetapi juga menjadi tempat untuk menyuarakan pesan nasionalisme.
Jika dokumentasi dan catatan resmi mengonfirmasi bahwa belum pernah ada Bupati Kerinci sebelumnya yang membacakan Teks Sumpah Pemuda di puncak Gunung Kerinci. Momen ini layak menjadi catatan sejarah baru bagi Kabupaten Kerinci.
Lebih jauh, perjalanan ini membawa pesan bahwa kepemimpinan tidak hanya berbicara tentang jabatan. Kepemimpinan juga menyangkut keteladanan, keberanian menghadapi tantangan. Dan kemampuan mengajak generasi muda bergerak menuju tujuan bersama.
Pada akhirnya, perjalanan dari Pintu Rimba hingga puncak Gunung Kerinci mengajarkan arti perjuangan yang sesungguhnya. Setiap langkah membutuhkan tekad, setiap tantangan membutuhkan keberanian, dan setiap tujuan besar membutuhkan kebersamaan.
Dari ketinggian 3.805 MDPL, semangat Sumpah Pemuda kembali menggema. Monadi bersama 28 pemuda tangguh membawa pesan bahwa kecintaan terhadap Tanah Air harus tumbuh melalui tindakan nyata. Kepedulian sosial, pelestarian alam, dan pengabdian kepada masyarakat.










