GLOBALJAMBI.CO.ID – Event balap motor bergengsi Asia MX – Bupati Kerinci Cup 2026 yang berlangsung di Sirkuit Pro Lahar Dingin, Sungai Rumpun, Kecamatan Kayu Aro, Minggu (31/5/2026), memicu gelombang kritik dari peserta dan penonton.
Alih-alih meninggalkan kesan positif, ajang yang di promotori Adi Purnomo, SE., MM., anggota DPRD Kabupaten Kerinci itu justru memunculkan kontroversi terkait fasilitas dan hadiah bagi para juara.
Sejak awal pelaksanaan, sejumlah pengunjung mengeluhkan biaya penggunaan toilet yang mencapai Rp10 ribu per orang. Namun, polemik terbesar muncul ketika para pembalap mempertanyakan hadiah yang panitia berikan setelah perlombaan berakhir.
Juara Umum Pertanyakan Hadiah yang di Terima
Sorotan publik semakin menguat setelah Juara Umum Asia MX – Bupati Kerinci Cup 2026, M Athar Alghifari, menyampaikan kekecewaannya melalui siaran langsung di media sosial.
Dalam tayangan tersebut, Athar memperlihatkan hadiah yang ia terima. Ia mengaku bingung karena mobil tak kunjung di perlihatkan, hanya tertulis 3.000 dolar Amerika Serikat.
“Saya dengan Bupati nya nggak masalah, Bupati enjoy saja, aman saja, baik-baik saja, panitianya sih yang parah,”ujarnya.
Video tersebut kemudian menyebar dengan cepat di berbagai platform media sosial dan memancing beragam tanggapan dari masyarakat.
Setelah polemik berkembang luas, panitia memberikan klarifikasi. Panitia mengakui adanya miskomunikasi terkait hadiah utama yang mereka informasikan kepada peserta dan publik. Selanjutnya, panitia menyerahkan uang senilai sekitar Rp50 juta kepada juara umum sebagai bentuk penyelesaian.
Meski demikian, klarifikasi itu belum mampu meredam kritik sepenuhnya. Banyak pihak menilai panitia seharusnya mampu menghindari persoalan tersebut dalam sebuah ajang yang mengusung nama besar Asia MX dan Bupati Kerinci Cup.
Hadiah Motor Jadi Sorotan, Peserta Merasa Kurang di Hargai
Selain polemik hadiah utama, sejumlah pembalap juga menyoroti hadiah sepeda motor untuk para juara di berbagai kelas.
Menurut sejumlah peserta dan penonton, kondisi motor tersebut tidak mencerminkan hadiah baru sebagaimana ekspektasi yang muncul dalam materi promosi dan brosur kegiatan. Karena itu, banyak pihak mempertanyakan transparansi panitia saat menyampaikan informasi hadiah kepada peserta.
Kekecewaan tersebut kemudian berkembang menjadi perbincangan luas di media sosial. Bahkan, sebagian penggemar balap menilai panitia gagal menjaga kepercayaan peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Seorang penonton yang mengikuti jalannya perlombaan mengungkapkan rasa kecewanya terhadap penyelenggaraan event tersebut.
“Kami sebagai penonton merasa sangat kecewa. Para juara datang dari luar daerah, mengeluarkan biaya besar untuk ikut balapan, tetapi hadiah yang di terima tidak sesuai harapan,” ujarnya.
Lebih lanjut, sejumlah pecinta balap menilai penghargaan terhadap atlet harus menjadi prioritas utama dalam setiap kompetisi. Para pembalap tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga mewakili tim, sponsor, dan daerah asal mereka.
Kontroversi Berpotensi Cederai Reputasi Event Balap Kerinci
Di sisi lain, berbagai pihak mengingatkan bahwa polemik hadiah dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap citra dunia balap di Kerinci.
Jika penyelenggara tidak segera melakukan evaluasi menyeluruh, kepercayaan pembalap nasional maupun internasional berpotensi menurun. Bahkan, sejumlah penggemar balap khawatir para rider dari luar daerah akan mempertimbangkan kembali keikutsertaan mereka dalam event serupa pada masa mendatang.
Selain itu, kontroversi ini menjadi pelajaran penting bagi setiap penyelenggara event olahraga. Panitia harus mengutamakan transparansi hadiah, profesionalisme penyelenggaraan, serta kepastian informasi kepada peserta agar kejuaraan berlangsung secara adil dan bermartabat.
Karena itu, publik kini menunggu langkah konkret dari panitia untuk menjelaskan seluruh polemik yang berkembang. Langkah tersebut dapat membantu memulihkan kepercayaan peserta, sponsor, dan masyarakat sekaligus menjaga reputasi Kerinci sebagai salah satu daerah yang aktif menggelar event balap berskala besar.
Pada akhirnya, sebuah kejuaraan tidak hanya bergantung pada ramainya penonton atau besarnya hadiah. Kredibilitas penyelenggara, komitmen terhadap peserta, serta konsistensi informasi yang mereka publikasikan menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan sebuah event olahraga.









