Mitos dan Fakta Otomotif, Matikan Mesin Sambil Injak Gas hingga Sport Mode Bikin Mesin Rusak

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GLOBALJAMBI.CO.ID – Mitos dan Fakta Dunia otomotif di penuhi berbagai mitos yang terus beredar dari generasi ke generasi. Banyak pemilik kendaraan masih mempercayai sejumlah kebiasaan lama tanpa mengetahui dasar teknis yang sebenarnya. Akibatnya, tidak sedikit pengendara yang menerapkan cara perawatan kurang tepat dan berpotensi merugikan kendaraan mereka.

Melalui rubrik edukasi terbaru, Ko Lung-Lung dari Dokter Mobil Indonesia mengupas sejumlah mitos populer yang sering muncul di kalangan pengguna mobil. Mulai dari kebiasaan mematikan mesin sambil menginjak pedal gas hingga anggapan bahwa Sport Mode dapat mempercepat kerusakan mesin.

Lalu, mana yang benar dan mana yang hanya mitos? Simak penjelasan lengkap berikut ini.

Kebiasaan Injak Gas Sebelum Matikan Mesin Ternyata Tidak Lagi Relevan

Banyak pemilik mobil lawas masih mempertahankan kebiasaan menginjak pedal gas sesaat sebelum mematikan mesin. Mereka meyakini langkah tersebut dapat meningkatkan sirkulasi oli ke bagian atas mesin sehingga komponen tetap terlumasi saat kendaraan tidak digunakan.

Namun, Ko Lung-Lung menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut tidak memberikan manfaat signifikan, baik pada mobil modern maupun kendaraan lama. Sistem pelumasan mesin sudah bekerja sesuai desain pabrikan tanpa memerlukan perlakuan tambahan sebelum mesin berhenti.

Karena itu, pengendara cukup mematikan mesin secara normal. Selain lebih praktis, cara ini juga menghindarkan pemborosan bahan bakar yang tidak perlu.

Overheat Sekali Bisa Menjadi Awal Kerusakan Serius Jika Diabaikan

Banyak pemilik kendaraan menganggap masalah overheat selesai ketika suhu mesin kembali normal keesokan harinya. Padahal, anggapan tersebut justru berisiko menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Menurut Ko Lung-Lung, mobil yang pernah mengalami overheat wajib menjalani pemeriksaan menyeluruh. Pasalnya, overheat sering menjadi tanda adanya masalah pada sistem pendingin, seperti kerusakan extra fan, kebocoran radiator, selang pendingin bermasalah, atau tutup radiator yang sudah tidak bekerja optimal.

Baca Juga :  Tampang Sangar Bak Alien, Suzuki Burgman 150 Resmi Mengaspal, Siap Goyang Takhta NMAX dan PCX

Selain itu, pengendara perlu segera mencari sumber masalah sebelum kerusakan merambat ke komponen lain. Jika pemilik kendaraan membiarkan kondisi tersebut, biaya perbaikan dapat membengkak hingga belasan bahkan puluhan juta rupiah akibat turun mesin.

Oleh sebab itu, pemeriksaan di bengkel menjadi langkah paling bijak setelah mesin mengalami overheat.

Mitos Oli Mesin Bisa Menggantikan Oli Transmisi Manual Masih Overheat di Percaya

Di berbagai forum otomotif, masih banyak pengguna mobil yang menganggap oli mesin 10W-30 dapat menggantikan oli transmisi manual atau Manual Transmission Fluid (MTF), khususnya pada beberapa model Honda.

Padahal, kedua jenis pelumas tersebut memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda. Oli transmisi mengandung aditif khusus yang melindungi permukaan gir dari gesekan dan tekanan tinggi selama proses perpindahan tenaga.

Sebaliknya, oli mesin dirancang untuk kebutuhan pelumasan komponen mesin, bukan sistem transmisi. Karena itu, penggunaan oli mesin pada girboks manual dapat mempercepat keausan komponen transmisi dan menurunkan umur pakai gir.

Dengan kata lain, pemilik kendaraan harus selalu menggunakan pelumas sesuai spesifikasi yang direkomendasikan pabrikan.

Benarkah Mobil Listrik Bisa Mati Saat Melintasi Rel Kereta Api?

Belakangan ini, media sosial ramai membahas kasus mobil listrik yang tiba-tiba berhenti saat melintasi rel kereta api. Sebagian orang kemudian mengaitkan kejadian tersebut dengan gelombang elektromagnetik dari rel.

Namun, Ko Lung-Lung menegaskan bahwa medan elektromagnetik di sekitar rel kereta tidak cukup kuat untuk menghentikan sistem kerja kendaraan listrik modern.

Sebaliknya, penyebab yang lebih masuk akal berasal dari sensor kendaraan yang terlalu sensitif terhadap getaran. Saat mobil melintasi rel dengan permukaan yang tidak rata, sensor getaran atau sensor derek dapat mengirim sinyal darurat ke komputer kendaraan.

Baca Juga :  Pasar EV Kian Stabil, Jaecoo J5 EV Rebut Mahkota Raja Mobil Listrik

Selanjutnya, sistem keamanan kendaraan mengaktifkan mode perlindungan dan menghentikan operasi kendaraan untuk mencegah risiko yang lebih besar.

Karena itu, pemilik mobil listrik tidak perlu langsung menyalahkan faktor elektromagnetik tanpa melakukan pemeriksaan teknis yang mendalam.

Sport Mode Tidak Merusak Mesin, Tetapi Gaya Mengemudi Agresif Bisa Menjadi Masalah

Selain isu overheat dan mobil listrik, banyak pengendara juga khawatir menggunakan fitur Sport Mode karena menganggap fitur tersebut dapat mempercepat kerusakan mesin.

Faktanya, pabrikan memang merancang Sport Mode untuk meningkatkan respons kendaraan secara aman. Sistem ini mengatur perpindahan gigi pada putaran mesin yang lebih tinggi sehingga akselerasi terasa lebih cepat dan responsif.

Namun demikian, Ko Lung-Lung mengingatkan bahwa kerusakan lebih sering muncul akibat gaya berkendara yang agresif. Misalnya, pengemudi terus-menerus menginjak gas secara penuh lalu mengerem mendadak dalam kondisi lalu lintas padat.

Jika kebiasaan tersebut berlangsung dalam jangka panjang, komponen mesin, rem, dan transmisi akan menerima beban kerja yang lebih berat.

Karena itu, penggunaan Sport Mode tetap aman selama pengemudi menggunakannya secara wajar dan tetap memperhatikan kondisi kendaraan.

Jangan Mudah Percaya Mitos Otomotif

Perkembangan teknologi kendaraan membuat banyak kebiasaan lama tidak lagi relevan. Oleh karena itu, pemilik mobil perlu memahami informasi otomotif berdasarkan penjelasan teknis dan rekomendasi pabrikan.

Selain melakukan servis berkala, pengendara juga harus menggunakan pelumas sesuai spesifikasi, memeriksa sistem pendingin secara rutin, serta segera menangani gejala kerusakan sejak awal.

Dengan langkah tersebut, kendaraan akan tetap prima, lebih awet, dan terhindar dari biaya perbaikan yang tidak perlu.

Berita Terkait

Kebangkitan Sang Legenda! Honda Prelude Resmi Mengaspal di Indonesia
Mengapa Mobil Listrik Bisa Tiba-Tiba Mati di Rel Kereta ? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Geely EX2 Facelift Meluncur Lebih Canggih dan Murah, Jarak Tempuh Tembus 480 Km
Audi S3 Verve Edition, Tampil Eksklusif dengan Warna District Green dan Tenaga 333 HP
Mitsubishi Pajero Generasi Terbaru Siap Debut Akhir Tahun 2026, Siap Gantikan Pajero Sport?
Pusing Mikir Minyak, Ini 3 Mobil Listrik Terbaik untuk Angkut Sawit
3 Pilihan Mobil Listrik Terbaik dan Bandel untuk Jalan Tanjakan dan Berlumpur
Mau Beli Motor Listrik, Tapi Takut Pendakian? Ini 5 Motor Listrik yang Aman Melibas Tanjakan Curam
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:30 WIB

Kebangkitan Sang Legenda! Honda Prelude Resmi Mengaspal di Indonesia

Selasa, 2 Juni 2026 - 08:00 WIB

Mitos dan Fakta Otomotif, Matikan Mesin Sambil Injak Gas hingga Sport Mode Bikin Mesin Rusak

Selasa, 2 Juni 2026 - 06:30 WIB

Mengapa Mobil Listrik Bisa Tiba-Tiba Mati di Rel Kereta ? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Senin, 1 Juni 2026 - 06:00 WIB

Geely EX2 Facelift Meluncur Lebih Canggih dan Murah, Jarak Tempuh Tembus 480 Km

Senin, 1 Juni 2026 - 04:00 WIB

Audi S3 Verve Edition, Tampil Eksklusif dengan Warna District Green dan Tenaga 333 HP

Berita Terbaru