Janji PLTA, Luka di Tepi Sungai Tanjung Merindu

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 9 Juli 2025 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GLOBALJAMBI.CO.ID, JAMBI – Di tepian Sungai Tanjung Merindu, suara air yang dulu menjadi penghidupan kini hanya menjadi saksi bisu dari jeritan hati warga dua desa di Pulau Pandan, Kerinci. Sungai itu bukan sekadar aliran air, tapi sumber kehidupan. Tempat mereka menebar jala, menyiram ladang, dan berharap esok pagi ada makanan di meja.

Namun sejak proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) milik PT Kerinci Merangin Hidro (KMH) dimulai, aliran kehidupan itu perlahan mati. Mata pencaharian warga dari sektor pertanian, perikanan sungai, hingga nelayan darat pun ikut terkikis.

Yang membuat luka mereka semakin dalam, bukan hanya aliran sungai yang menyempit, tapi juga sikap para pemimpin desa yang seharusnya menjadi pembela suara rakyat. “Kami tidak ada ketua, kami bergerak sendiri. Kepala desa sudah berpihak kepada mereka (perusahaan PLTA), kami tidak rela,” ujar Erniati, salah satu ibu-ibu yang ikut aksi penolakan, dengan suara tercekat.

Bukan hanya satu, tapi dua kepala desa di kawasan itu kini tengah disorot. Mereka dinilai lebih sering “berdiri” di belakang perusahaan dibandingkan berdiri bersama rakyatnya. Kesepakatan demi kesepakatan dibuat, sebagian kecil warga menerima kompensasi, tapi mayoritas lainnya hanya diberi harapan kosong dan ketidakjelasan.

Baca Juga :  Pimpin Apel, Wabup Murison Sampaikan Pesan Inspiratif untuk ASN Kerinci

Suara Masyarakat Dibelokkan, Kompensasi Dipertanyakan

Sungai Tanjung Merindu akan dinormalisasi untuk memperlancar jalannya proyek PLTA Kerinci. Namun, kompensasi yang seharusnya menjadi bentuk keadilan bagi warga terdampak, justru menjadi konflik baru. Banyak warga mengaku tidak pernah tahu-menahu soal kesepakatan itu. Bahkan, informasi pun ditutupi.

“Kami merasa dibohongi. Kami hanya minta hak kami, bukan mau cari masalah,” ungkap seorang warga lainnya dengan nada getir.

Lebih mengejutkan, warga menduga ada permainan antara pihak perusahaan dan Humas PT KMH, Aslori, bersama kepala desa. Mereka pun meminta tokoh nasional Jusuf Kalla untuk turun langsung melihat kondisi lapangan dan memecat Aslori dari jabatannya.

“Kami tidak ingin terjadi gesekan. Kami hanya ingin didengar langsung, tanpa perantara yang punya kepentingan sendiri,” ujarnya dengan tegas.

Jeritan Yang Tak Boleh Diabaikan

Aksi penolakan warga bukan tanpa sebab. Ini adalah jeritan dari masyarakat kecil yang merasa ditinggalkan. Mereka tidak ingin menolak kemajuan, tapi mereka juga tidak ingin dilindas atas nama pembangunan.

Di bawah panas matahari, para ibu menenteng spanduk buatan tangan, para bapak duduk menatap sungai yang perlahan kehilangan nyawanya. Bukan hanya air yang surut, tapi juga harapan mereka.

Baca Juga :  Bank 9 Jambi Cabang Kerinci Qurban Dua Ekor Sapi di Momen Idul Adha 1446 H

“Kami Tak Butuh Uang, Kami Butuh Kehidupan Kami Kembali”

Di tengah segala kerumitan ini, satu hal menjadi jelas: warga tidak menolak pembangunan. Mereka paham pentingnya listrik. Tapi mereka ingin pembangunan yang adil. Yang memberi, bukan mengambil. Yang menyelamatkan, bukan menenggelamkan.

Sungai Tanjung Merindu bukan sekadar proyek. Ia adalah kehidupan yang berdetak. Dan ketika detak itu mulai hilang, yang tersisa hanyalah luka dan duka.

Akhir Kata : Suara dari Pinggiran

Masyarakat dua desa itu kini hanya berharap satu hal: jangan biarkan suara mereka tenggelam seperti aliran sungai yang mereka cintai. Mereka tidak ingin melawan. Mereka hanya ingin didengar. Didampingi. Dihargai.

Karena bagi mereka, keadilan bukan tentang kompensasi besar. Tapi tentang hak untuk hidup, untuk memilih, dan untuk tetap memiliki apa yang selama ini mereka jaga: alam dan martabat.

Redaksi GLOBALJAMBI.CO.ID akan terus mengikuti perkembangan kasus ini. Karena di balik setiap Mega proyek, selalu ada manusia yang terlibat, dan mereka pantas mendapatkan keadilan.***

Berita Terkait

Tender RSUD Kerinci Tuntas, Bupati Monadi: Hadiah Bahagia untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Ajang Bergengsi Tuai Kontroversi, Para Juara Asia MX Kecewa Hadiah Tak Sesuai
Wabup Murison Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Tegaskan Pancasila Perekat Persatuan Bangsa dan Fondasi Perdamaian Dunia
Wako Alfin Naik ke Menara Masjid Raya Sungai Penuh, Mengingat Sejarah Pengibaran Merah Putih Pertama di Kerinci
Al Haris Respon Cepat Fly Over Sungai Penuh–Tapan dan Kerinci–Bungo, Publik Bertanya: Janji yang Kesekian Kalinya?
Ini Perkiraan Harga Tiket Batik Air Muara Bungo–Jakarta
Batik Air Rute Muaro Bungo–Jakarta Resmi Dimulai, Ini Jadwalnya Hingga Jumlah Penumpang
Kerinci dan Sungai Penuh Dukung Batik Air Beroperasi di Bandara Muara Bungo
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 22:37 WIB

Tender RSUD Kerinci Tuntas, Bupati Monadi: Hadiah Bahagia untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Senin, 1 Juni 2026 - 13:30 WIB

Ajang Bergengsi Tuai Kontroversi, Para Juara Asia MX Kecewa Hadiah Tak Sesuai

Senin, 1 Juni 2026 - 11:25 WIB

Wabup Murison Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Tegaskan Pancasila Perekat Persatuan Bangsa dan Fondasi Perdamaian Dunia

Senin, 1 Juni 2026 - 08:00 WIB

Wako Alfin Naik ke Menara Masjid Raya Sungai Penuh, Mengingat Sejarah Pengibaran Merah Putih Pertama di Kerinci

Minggu, 31 Mei 2026 - 13:12 WIB

Al Haris Respon Cepat Fly Over Sungai Penuh–Tapan dan Kerinci–Bungo, Publik Bertanya: Janji yang Kesekian Kalinya?

Berita Terbaru