GLOBALJAMBI.CO.ID – Dunia teknologi selalu dipenuhi hype, peluncuran besar, dan janji inovasi. Namun di balik semua itu, para kreator teknologi juga sering mengalami penyesalan setelah membeli gadget tertentu. Hal inilah yang diungkapkan Malvin dari channel YouTube Bestindotech dalam video terbarunya bertajuk “Gadget Penyesalan Tech Creator.”
Dalam video tersebut, Malvin memanfaatkan momen saat menghadiri acara Samsung Unpacked di San Francisco untuk berbincang langsung dengan sejumlah kreator teknologi Indonesia. Ia menanyakan satu pertanyaan sederhana namun menarik: gadget apa yang paling mereka sesali di awal 2026?
Menariknya, jawaban yang muncul tidak selalu bernada negatif. Sebagian kreator justru menyesal karena terlambat membeli gadget tertentu yang ternyata sangat berguna. Dari konsol game hingga kamera vlogging, berbagai cerita unik pun bermunculan.
Nintendo Switch 2: Ekspektasi Tinggi, Kepuasan Biasa Saja
Salah satu pengakuan yang cukup mengejutkan datang dari pembahasan tentang Nintendo Switch 2. Beberapa kreator mengaku merasa kurang puas setelah membeli konsol tersebut pada masa awal peluncuran.
Mereka menilai peningkatan yang ditawarkan tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan harga rilisnya yang cukup tinggi. Alhasil, sebagian pengguna malah kembali menggunakan Nintendo Switch OLED, yang dinilai masih sangat mumpuni untuk bermain game sehari-hari.
Selain itu, banyak gamer juga merasa Switch OLED tetap menawarkan pengalaman bermain yang stabil dengan layar yang sudah sangat baik. Karena itu, beberapa kreator menyebut keputusan membeli Switch 2 di awal sebagai pembelian yang terlalu terburu-buru.
Steam Deck OLED: Menyesal Karena Terlambat Membeli
Cerita berbeda datang dari Fahmi, kreator teknologi dari DroidLime. Ia mengaku justru menyesal karena terlambat membeli Steam Deck OLED.
Menurutnya, perangkat gaming portabel ini menawarkan kualitas layar yang sangat memanjakan mata serta pengalaman bermain yang cukup fleksibel. Namun, seiring berkembangnya game terbaru, performa perangkat ini mulai terasa berat.
Game modern seperti Helldivers 2 menuntut spesifikasi yang lebih tinggi. Karena itu, Fahmi akhirnya beralih ke perangkat lain yang lebih bertenaga. Meski begitu, ia tetap mengakui bahwa Steam Deck OLED tetap menjadi perangkat gaming yang sangat menarik di kelasnya.
DJI Nano dan DJI Pocket 3: Praktis, Tapi Ada Cerita di Baliknya
Perangkat kamera juga masuk dalam daftar gadget yang memicu penyesalan para kreator.
Edward Halim mengungkapkan pengalaman unik saat membeli DJI Mini 4 Pro versi Nano di Indonesia. Ia membeli perangkat tersebut dengan harga sekitar Rp5 juta. Namun kemudian, ia menemukan bahwa harga di China hanya sekitar setengah dari harga yang ia bayar.
Sementara itu, kreator teknologi Om Dedy Irfan dari Jagat Review justru memiliki alasan berbeda saat membahas DJI Osmo Pocket 3. Ia menyebut kamera ini terlalu bagus dan terlalu praktis untuk kebutuhan produksi konten.
Akibatnya, anggota timnya sering meminjam kamera tersebut. Karena situasi itu, Om Dedy malah lebih sering menggunakan smartphone untuk merekam konten sehari-hari demi kepraktisan.
Apple AirTag 2: Gadget Kecil yang Terlalu Lama Diabaikan
Malvin juga membagikan pengalaman pribadinya terkait Apple AirTag 2. Awalnya, ia tidak terlalu tertarik menggunakan perangkat pelacak kecil tersebut.
Namun setelah mengalami insiden kehilangan barang saat menjalankan tugas di luar negeri, ia mulai menyadari pentingnya perangkat ini. AirTag 2 menawarkan akurasi pelacakan yang lebih baik serta respons yang lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.
Karena itu, Malvin kini menganggap AirTag 2 sebagai gadget wajib, terutama bagi traveler atau kreator konten yang sering berpindah tempat.
Kesimpulan: Gadget Mahal Tidak Selalu Memberi Kepuasan
Melalui berbagai cerita tersebut, video Malvin memberikan gambaran yang cukup jujur tentang dunia gadget. Harga mahal, teknologi terbaru, atau hype besar tidak selalu menjamin kepuasan pengguna.
Sebaliknya, pengalaman para kreator ini menunjukkan bahwa keputusan membeli gadget membutuhkan pertimbangan yang matang. Kadang-kadang, perangkat lama justru memberikan nilai yang lebih baik. Di sisi lain, ada juga gadget sederhana yang ternyata sangat berguna, meskipun banyak orang baru menyadari manfaatnya setelah terlambat membelinya.
Karena itu, sebelum membeli gadget baru, pengguna sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya. Dengan begitu, keputusan membeli tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memberikan manfaat yang benar-benar terasa dalam penggunaan sehari-hari.









