Tak Punya Biaya Berobat, Korban Setrum Listrik Pulang Paksa dari RSU dalam Keadaan Lumpuh

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 18 Februari 2024 - 22:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GLOBALJAMBI.COM, KERINCI – Ariadi (35), warga Desa Baru Semerah, Kecamatan Tanah Cogok, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, dikabarkan harus pulang paksa dari rumah sakit, lantaran tidak punya biaya untuk berobat.

Bapak muda itu, dilaporkan terkena sengatan arus listrik pada Rabu (14/2) di rumahnya, setelah pulang dari mencoblos di TPS. Pada Minggu (18/2), sejumlah wartawan mencoba memastikan kondisi Ariadi di kediamannya saat ini, tepatnya di Dusun Tuo Desa Baru Semerah.

Setelah melewati lorong kecil yang becek, akhirnya sampai di sebuah gubuk kecil ukuran dua kali tiga meter. Di gubuk itu lah, tinggal sepasang suami istri Ariadi dan Kabtiah, bersama beberapa anak-anak mereka. Gubuk kecil itu, selain berfungsi sebagai kamar juga dijadikan ruang makan dan juga sekaligus sebagai ruang tamu. Di petak sempit samping rumah, dimanfaatkan sebagai dapur. Tak ada barangmewah di rumah itu. Hanya bantal dan selimut lusuh, yang digunakan untuk menyelimuti badan Ariadi dari hawa dingin.

Sesekali dia terlihat meringis kesakitan. Tangan kanannya terlihat terus gemetar, sedangkan bagian tubuh lainnya tak bisa digerakkan sama sekali. “Sudah empat hari dia hanya terbaring saja di rumah,” kata Kabtiah, istri dari Ariadi saat ditanya warga dan wartawan soal kondisi suaminya pasca pulang dari rumah sakit.

Baca Juga :  Siang Malam Tinjau Lokasi Bencana, Pj Bupati Kerinci Asraf Ajak Warga Doakan Agar Bencana ini Segera Berlalu

Selain lumpuh, akibat sengatan listrik juga membuat tubuh suaminya mulai terasa sakit, terutama di sebelah kanan.“Kalau kemarin di sebelah kanan tubuhnya mati rasa. Sekarang sekujur tubuh suami saya mulai merasakan sakit, tangan kanannya tidak berhenti gemetar,” tambah Kabtiah.

Tak hanya itu, banyak lagi keluhan lain yang timbul. Suami yang semulanya sehat, saat ini saat hendak diangkat untuk buang air, malah ususnya juga ikut keluar.“Kalau buang air ususnya keluar panjang sekali. Padahal sebelumnya dia tidak pernah kena penyakit ambeien,”jelas Kabtiah.

Saat ini, dia hanya bisa pasrah terhadap nasib yang menimpa keluarganya. Karena tidak punya biaya berobat, suaminya hanya mampu dirawat seadanya. Dia juga mengakui, ketika pulang dari rumah sakit umum Mayjend HA Thalib juga pulang paksa. Dokter belum mengizinkan suaminya pulang karena kondisinya yang masih sakit parah.

Namun karena tidak ada biaya, dia harus membawa sang suami keluar dari rumah sakit, agar tagihan perawatan tidak semakin banyak.“Kami dibantu oleh pemerintahan desa dan patungan keluarga. Mulai dari ambulan sampai ke biaya perawatan. Kalau saya tidak punya apa-apa, makan saja tidak ada,”bebernya.

Baca Juga :  Tersayat Mesin Rumput, Mustapa Terbaring Tanpa Biaya, Wabup Kerinci Murison Turun Tangan

Ke depan, Kabtiah mengaku tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menyembuhkan sang suami tercinta. Terlebih obat yang dibawa pulang dari rumah sakit sudah habis.“Tadinya mau mintak bantu ke Bidan Desa. Tapi obat untuk suami saya tidak ada, harus dokter yang menanganinya,”ungkapnya.

Selama ini, Kabtiah bersama suami tinggal di ladang, mengais rezeki dengan menggarap lahan milik induk semang nya. Dia pulang ke desa hanya untuk ikut mencoblos.“Mau kembali ke ladang tidak mungkin dengan kondisi suami sakit begini. Tapi kalau tetap di desa siapa yang akan memberi kami makan,”sebutnya sambil menangis.

Pemerintah desa sendiri, sudah melakukan berbagai upaya agar warganya bisa tertangani. Hanya saja, sejauh ini belum ada solusi yang nyata.“Mau buat BPJS Kesehatan, baru akan berlaku 14 hari lagi, sedangkan Ariadi harus ditangani sekarang juga,”beber Bahrul, staf Desa Baru Semerah yang ikut membantu mengurus Ariadi.

Bersama kades dan staf desa lainnya, dia sudah menghubungi pendamping sosial, dinas kesehatan, dan juga Bazda. “Kalau pendamping sosial sudah turun, tapi apa sulusinya belum jelas,”tegasnya.(adi)

Berita Terkait

Muhammad Farlan dari Muara Semerah Berjuang Melawan Tumor Tulang, Karang Taruna Buka Donasi untuk Bantu Pengobatan
Camat Depati Tujuh Indra Hermawan Bantah Tuduhan Pungli, Siap Tempuh Jalur Hukum atas Dugaan Pencemaran Nama Baik
Beras Payo Koerintji Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis
Lampu Padam di Tanah Cogok, ini Dugaan Penyebab dan Keterangan PLN
Serah Terima Lapangan Proyek, Pembangunan RSUD Kerinci Resmi Dimulai
Sosialisasi Tata Kelola Keuangan KONI Kerinci 2026, Nafrizal Tekankan Transparansi dan Profesionalisme Organisasi
Tanggul dan Normalisasi Sungai Batang Merao Jadi Solusi Banjir di Sungai Penuh dan Kerinci
Dihadiri Kasi Pidsus dan Kasi Datun, Camat dan Seluruh Kades di Depati Tujuh Ikuti Sosialisasi Anti Korupsi Keuangan Negara
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:37 WIB

Muhammad Farlan dari Muara Semerah Berjuang Melawan Tumor Tulang, Karang Taruna Buka Donasi untuk Bantu Pengobatan

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:37 WIB

Camat Depati Tujuh Indra Hermawan Bantah Tuduhan Pungli, Siap Tempuh Jalur Hukum atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

Rabu, 24 Juni 2026 - 20:10 WIB

Beras Payo Koerintji Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:27 WIB

Lampu Padam di Tanah Cogok, ini Dugaan Penyebab dan Keterangan PLN

Sabtu, 20 Juni 2026 - 19:36 WIB

Serah Terima Lapangan Proyek, Pembangunan RSUD Kerinci Resmi Dimulai

Berita Terbaru