Kerinci, Negeri Seribu Cerita: Jejak Megalitikum Ribuan Tahun Masih Tersimpan hingga Kini

- Jurnalis

Sabtu, 15 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

GLOBALJAMBI.CO.ID, KERINCI — Kabut perlahan menyelimuti lembah, Pegunungan berdiri kokoh di kejauhan, sementara hamparan hijau membentang di antara perbukitan. Namun, di balik panorama yang menenangkan itu, Kerinci menyimpan cerita yang jauh lebih tua daripada ingatan manusia modern.

Di sejumlah sudut Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, batu-batu tua masih berdiri dan terbaring sebagai saksi perjalanan panjang peradaban. Bentuknya beragam, mulai dari batu silindrik, menhir, punden berundak, batu lumpang hingga batu sorban.

Batu-batu tersebut bukan sekadar bongkahan yang menghiasi lanskap Kerinci. Sebaliknya, peninggalan megalitik itu membuka jendela untuk memahami kehidupan, kepercayaan dan kebudayaan masyarakat. Yang pernah hidup di dataran tinggi Sumatra pada masa lampau.

Batu Silindrik, Jejak yang Masih Membisikkan Cerita

Salah satu peninggalan megalitik yang paling menarik perhatian masyarakat dan peneliti ialah batu silindrik.

Batu tersebut memiliki bentuk bulat memanjang dan umumnya terletak dalam posisi rebah. Menariknya, sejumlah batu memperlihatkan pahatan atau relief yang menampilkan figur manusia, hewan hingga bentuk geometris.

Pada beberapa relief, masyarakat dapat mengenali gambaran gajah, kerbau dan manusia. Bahkan, terdapat pula sosok manusia yang mengenakan bentuk menyerupai mahkota.

Setiap pahatan seolah membawa pembaca kembali ke masa, ketika manusia menorehkan gagasan dan keyakinannya pada permukaan batu. Karena itu, keberadaan batu silindrik memberikan gambaran penting mengenai cara masyarakat masa lalu memandang manusia, alam dan kehidupan spiritual.

Lebih jauh lagi, menhir dan punden berundak turut memperkaya jejak tersebut. Struktur batu itu berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur, dan kegiatan ritual masyarakat pada masa lalu.

Selain itu, beberapa situs berada di kawasan perbukitan dengan posisi yang berhubungan erat dengan bentang alam di sekitarnya. Gunung Kerinci yang menjulang di kejauhan pun menjadi bagian dari lanskap, yang membingkai perjalanan sejarah tersebut.

Baca Juga :  Breaking News!! Kejari Sungai Penuh Kembali Tetapkan 1 Orang Tersangka Kasus Koni Sungai Penuh

Dari Muak hingga Sanggaran Agung, Jejak Megalit Menyebar

Jejak peradaban megalitik tidak hanya muncul di satu tempat. Sebaliknya, peninggalan tersebut tersebar di sejumlah wilayah Kerinci dan membentuk rangkaian cerita sejarah yang menarik untuk di telusuri.

Desa Muak, Kecamatan Bukit Kerman, menjadi salah satu kawasan yang memiliki peninggalan megalitik. Di wilayah tersebut, masyarakat mengenal sejumlah batu bersejarah, termasuk Batu Patah serta batu-batu dengan pahatan dan relief.

Kemudian, jejak serupa juga muncul di Jujun, Pulau Tengah dan Benik. Kawasan-kawasan itu menyimpan batu silindrik yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

Sementara itu, masyarakat juga menemukan batu menhir di Desa Sanggaran Agung, Kecamatan Danau Kerinci. Temuan tersebut kembali memperlihatkan betapa luasnya persebaran peninggalan megalitik di kawasan Kerinci.

Di Sungai Liuk, terdapat Batu Sorban. Batu besar berbentuk persegi panjang tersebut memiliki kaitan dengan aktivitas ritual. Atau tempat masyarakat pada masa lalu meletakkan sesaji.

Selanjutnya, Hiang Tinggi menyimpan punden berundak dan menhir. Keberadaan berbagai tinggalan tersebut semakin memperkuat posisi Kerinci sebagai salah satu kawasan penting dalam kajian kebudayaan megalitik di Sumatra.

Dengan demikian, setiap batu tidak berdiri sendiri. Jika masyarakat melihatnya sebagai satu kesatuan, seluruh situs itu membentuk sebuah mosaik sejarah yang menggambarkan perjalanan manusia di dataran tinggi Kerinci.

Warisan Leluhur yang Menunggu Generasi Berikutnya

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci, Jamal Penta Putra, menilai situs-situs megalitikum tersebut sebagai kekayaan sejarah dan budaya yang sangat penting bagi daerah.

“Kerinci memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Situs-situs megalitikum ini menjadi bukti bahwa sejak zaman dahulu kawasan Kerinci sudah menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban manusia di Sumatra,” ujar Jamal.

Baca Juga :  Kerinci Negeri Seribu Budaya, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Keindahan Alam

Menurut Jamal, batu silindrik, menhir, punden berundak dan berbagai peninggalan lainnya memiliki nilai sejarah, sekaligus peluang besar untuk pengembangan wisata edukasi dan budaya.

Karena itu, pemerintah tidak hanya perlu menjaga keberadaan situs. Lebih dari itu, masyarakat juga perlu memahami cerita yang tersimpan di balik setiap peninggalan.

“Kita tentu ingin peninggalan ini tidak hanya menjadi benda yang di lihat, tetapi masyarakat dan generasi muda juga memahami nilai sejarah yang ada di baliknya. Karena itu, pelestarian harus berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata,” katanya.

Untuk menjaga warisan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kerinci melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan terus mendorong pendataan, perawatan, promosi serta edukasi kepada masyarakat.

“Ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga bersama. Kerinci memiliki identitas sejarah yang kuat dan kekayaan megalitik ini harus menjadi kebanggaan sekaligus warisan untuk generasi yang akan datang,” pungkasnya.

Kini, ketika kehidupan modern terus bergerak semakin cepat, batu-batu tua itu tetap berada di tempatnya. Hujan datang dan pergi. Kabut turun lalu menghilang. Pepohonan tumbuh, sementara generasi terus berganti.

Namun, pahatan pada batu tetap menyimpan pesan.

Kerinci bukan hanya lembah yang di kelilingi pegunungan. Kerinci juga menyimpan lorong panjang menuju masa lalu—sebuah kisah peradaban yang terpahat pada batu. Berdiam di tengah alam, lalu menunggu manusia masa kini untuk kembali membacanya.

Dan mungkin, setiap kali seseorang berdiri di hadapan batu megalitik Kerinci, ia bukan sekadar melihat sebuah peninggalan.

Ia sedang berhadapan dengan jejak manusia yang hidup ribuan tahun silam.

Berita Terkait

Kerinci Negeri Seribu Budaya, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Keindahan Alam
Tiga Bulan Lagi, Siapa Pimpin Tirta Sakti Kerinci? Mario dan Andi Masuk Bursa
HUT RI ke-81 di Depati Tujuh Makin Meriah, Lomba Domino Jadi Magnet Masyarakat
Bank Jambi Kerinci Sosialisasikan Produk Perbankan ke Sejumlah Sekolah
Disparbud Kerinci Bekali 30 Tour Guide, Dorong Brand Pariwisata yang Berdaya Saing
PC IMM Kerinci Geruduk Kejari Sungai Penuh, Desak Penegakan Hukum Tanpa Tebang Pilih
Pengamat: CSR Bank Jambi Perkuat Struktur Sosial Lewat Bantuan Masjid dan Kegiatan Kemasyarakatan
Bank Jambi Wujudkan Komitmen Gubernur Al Haris Lewat Penyaluran CSR untuk Lima Desa Tanjung Pauh Mudik
Berita ini 67 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 19:53 WIB

Kerinci, Negeri Seribu Cerita: Jejak Megalitikum Ribuan Tahun Masih Tersimpan hingga Kini

Kamis, 13 Agustus 2026 - 21:43 WIB

Kerinci Negeri Seribu Budaya, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Keindahan Alam

Kamis, 13 Agustus 2026 - 18:04 WIB

Tiga Bulan Lagi, Siapa Pimpin Tirta Sakti Kerinci? Mario dan Andi Masuk Bursa

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:37 WIB

HUT RI ke-81 di Depati Tujuh Makin Meriah, Lomba Domino Jadi Magnet Masyarakat

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:21 WIB

Bank Jambi Kerinci Sosialisasikan Produk Perbankan ke Sejumlah Sekolah

Berita Terbaru