GLOBALJAMBI.CO.ID – Tekanan ekonomi global dan domestik sepanjang 2026 memaksa pelaku usaha, khususnya UMKM, untuk bergerak lebih cepat dan lebih cerdas. Di tengah daya beli masyarakat yang semakin selektif, banyak orang mulai melirik usaha modal kecil sebagai jalan keluar. Namun, tanpa strategi yang tepat, bisnis kecil justru bisa membuat pelaku usaha terjebak dalam masalah arus kas dan penjualan stagnan.
Dalam program Grego Business Corner, pengamat bisnis Grego Julius menegaskan bahwa pola bisnis saat ini sudah berubah total. Menurutnya, banyak usaha gagal bukan karena produknya buruk, melainkan karena pemilik usaha masih memakai cara berpikir lama.
“Dulu orang cukup menjual barang dengan harga murah. Sekarang konsumen mencari solusi, kepercayaan, dan pengalaman,” ujar Grego.
Karena itu, pelaku UMKM harus mampu membaca perubahan pasar lebih cepat agar bisnis tetap bertahan sekaligus tumbuh di tengah tekanan ekonomi.
Strategi 5W+1H Jadi Senjata UMKM di Tahun 2026
Grego menjelaskan bahwa pelaku usaha pemula wajib memakai strategi sederhana tetapi terarah melalui konsep 5W+1H. Dengan langkah ini, bisnis modal kecil bisa berkembang lebih stabil dan minim risiko.
Pertama, pelaku usaha harus memahami alasan membangun bisnis. Tekanan ekonomi memang mendorong banyak orang mencari tambahan penghasilan. Namun, mereka tetap harus menawarkan solusi nyata kepada konsumen, bukan sekadar ikut tren jualan.
Selanjutnya, pelaku usaha perlu menentukan target pasar secara spesifik. Banyak UMKM gagal karena mencoba menjual produk kepada semua orang. Padahal, pasar yang fokus justru memberi peluang lebih besar. Contohnya, pekerja kantoran membutuhkan makanan praktis, sedangkan ibu rumah tangga mencari produk hemat dan efisien.
Selain itu, lokasi bisnis kini tidak lagi bergantung pada ruko mahal. Saat ini, perhatian konsumen berpindah ke platform digital seperti WhatsApp Group, TikTok, hingga Instagram. Karena itu, pelaku usaha harus aktif membangun interaksi di media sosial agar produk lebih mudah dikenal.
Kemudian, Grego mendorong pelaku usaha untuk segera memulai bisnis dari skala kecil. Model Pre-Order (PO), reseller, dropshipper, dan konsinyasi menjadi pilihan aman karena tidak membutuhkan stok besar di awal.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan pentingnya memilih produk fast-moving dengan arus kas cepat. Produk makanan harian, minuman, laundry, dan jasa kebersihan masih memiliki peluang besar karena konsumen membutuhkannya setiap hari.
Lima Pondasi Utama Agar Bisnis Tidak Mudah Bangkrut
Menurut Grego, banyak bisnis terlihat ramai tetapi akhirnya tumbang karena pondasinya lemah. Oleh sebab itu, pelaku UMKM harus membangun fondasi usaha sejak awal.
Pertama, pengusaha harus memiliki mindset proses. Mereka harus siap menghadapi tantangan, penurunan penjualan, hingga persaingan pasar tanpa menyerah terlalu cepat.
Kedua, bisnis harus fokus menyelesaikan masalah konsumen. Produk yang benar-benar dibutuhkan pasar biasanya lebih mudah bertahan dibanding produk yang hanya mengikuti keinginan pribadi pemilik usaha.
Ketiga, konsistensi memegang peran penting. Pelaku usaha harus rutin melakukan promosi, menjaga kualitas layanan, dan tetap aktif meskipun penjualan belum stabil.
Keempat, UMKM wajib membangun kepercayaan pelanggan. Pelaku usaha bisa menunjukkan proses packing, memberikan testimoni asli, serta merespons pelanggan dengan cepat agar konsumen merasa aman.
Kelima, setiap bisnis harus memiliki pencatatan sederhana. Pemilik usaha perlu memisahkan uang pribadi dan uang bisnis supaya arus kas tetap sehat dan mudah dikontrol.
Kendali Arus Kas Jadi Penentu Kelangsungan Bisnis
Grego juga menyoroti kesalahan besar yang sering terjadi pada usaha retail dan sembako. Banyak toko terlihat ramai pembeli, tetapi pemilik usaha tetap kesulitan mendapatkan keuntungan tunai.
Masalah itu muncul karena uang terjebak dalam stok barang yang lambat terjual atau slow-moving. Akibatnya, arus kas bisnis terganggu dan modal sulit berputar.
Karena itu, Grego menyarankan pelaku usaha memakai sistem FIFO (First In First Out) agar stok lama keluar lebih dulu. Selain itu, pengusaha juga perlu menghitung safety stock dengan disiplin supaya jumlah barang tetap seimbang dengan kebutuhan pasar.
“Cash flow jauh lebih penting daripada stok menumpuk. Uang tunai selalu lebih fleksibel untuk memutar bisnis,” tegas Grego.
UMKM yang Cepat Beradaptasi Akan Menguasai Pasar
Menutup diskusinya, Grego Julius menegaskan bahwa pemenang bisnis di tahun 2026 bukan hanya mereka yang memiliki modal besar. Sebaliknya, pasar justru memberi peluang lebih besar kepada pelaku usaha yang cepat beradaptasi dan mampu membaca perubahan konsumen.
Karena itu, memulai usaha kecil dengan strategi yang tepat jauh lebih aman dibanding langsung membangun bisnis besar tanpa pondasi kuat. Dengan fokus pada solusi, kepercayaan pelanggan, dan pengelolaan arus kas yang sehat, UMKM tetap memiliki peluang besar untuk bertahan sekaligus berkembang di tengah tekanan ekonomi 2026.









