GLOBALJAMBI.CO.ID – Fenomena harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia kembali memicu perdebatan publik. Kali ini, media sosial ramai membahas nilai keekonomian Pertalite (RON 90) yang di sebut-sebut menembus Rp16.000 per liter. Angka tersebut bahkan jauh lebih tinggi di banding harga Pertamax (RON 92) yang saat ini berada di kisaran Rp12.000 per liter.
Kondisi itu langsung memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Pasalnya, dalam logika industri otomotif, BBM dengan oktan lebih tinggi biasanya memiliki harga lebih mahal. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan kondisi sebaliknya.
Lalu, mengapa harga asli Pertalite bisa melampaui Pertamax? Apakah pemerintah dan Pertamina memang sengaja menciptakan “anomali” harga untuk tujuan tertentu?
Pakar ITB Bongkar Penyebab Harga Pertalite Melonjak
Guru Besar ITB sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, Trius Wijayanto Zainuri, menjelaskan bahwa perbedaan harga keekonomian BBM sebenarnya tidak terlalu jauh jika mengacu pada pasar global.
Menurutnya, negara-negara lain seperti Singapura hanya mencatat selisih tipis antara BBM RON 90, RON 92, hingga RON 95. Namun, Indonesia memiliki kondisi berbeda karena pemerintah dan Pertamina menerapkan strategi bisnis sekaligus kebijakan subsidi yang sangat spesifik.
Karena itu, harga keekonomian Pertalite terlihat jauh lebih tinggi di banding harga jual Pertamax di SPBU. Kondisi tersebut bukan terjadi akibat kesalahan sistem, melainkan bagian dari skenario untuk mengubah pola konsumsi masyarakat.
Selain itu, pemerintah kini semakin memperketat pembelian BBM subsidi melalui sistem barcode dan pembatasan kendaraan tertentu. Pada saat bersamaan, Pertamina juga menahan harga Pertamax agar tetap kompetitif.
Strategi Halus Agar Pengguna Mobil Beralih ke Pertamax
Pemerintah dan Pertamina tampaknya ingin mendorong pemilik kendaraan modern agar beralih ke BBM non-subsidi. Karena selisih harga Pertalite dan Pertamax kini semakin tipis, banyak pengguna kendaraan mulai mempertimbangkan penggunaan BBM dengan oktan lebih tinggi.
Strategi tersebut di nilai cukup efektif dari sisi psikologis konsumen. Sebab, masyarakat akan merasa lebih masuk akal membeli Pertamax demi menjaga performa mesin kendaraan.
Di sisi lain, langkah itu juga membantu pemerintah mengurangi beban subsidi energi yang selama ini kerap tidak tepat sasaran. Dengan demikian, kendaraan kelas menengah ke atas di harapkan tidak lagi memenuhi antrean BBM subsidi.
Tak hanya itu, penggunaan BBM sesuai spesifikasi mesin juga dapat meningkatkan efisiensi pembakaran sekaligus mengurangi risiko kerusakan mesin dalam jangka panjang.
Pertamax Ternyata Di tahan Agar Harga Tetap Stabil
Fakta menarik lainnya muncul dari harga Pertamax yang tetap stabil di kisaran Rp12.300 per liter. Trius mengungkapkan bahwa Pertamina menahan harga tersebut melalui skema internal perusahaan, bukan melalui subsidi langsung dari APBN.
Artinya, Pertamina ikut menanggung sebagian beban harga agar masyarakat tidak mengalami lonjakan biaya bahan bakar secara drastis.
Sementara itu, Pertalite tetap memperoleh subsidi resmi dari pemerintah karena statusnya memang masuk kategori BBM penugasan.
Melalui strategi tersebut, pemerintah berharap masyarakat kelas menengah mulai sadar untuk meninggalkan BBM subsidi dan beralih ke bahan bakar yang lebih sesuai dengan kebutuhan kendaraan modern.
Publik Mulai Bertanya, Strategi Ini Efektif atau Justru Membingungkan?
Meski memiliki tujuan mengurangi beban subsidi, strategi harga BBM ini tetap memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat.
Sebagian publik menilai kebijakan tersebut cukup cerdas karena mampu mendorong migrasi pengguna Pertalite ke Pertamax secara perlahan. Namun, sebagian lainnya justru merasa bingung karena harga keekonomian BBM terlihat tidak lagi sejalan dengan kualitas oktan.
Kini, masyarakat menunggu langkah lanjutan pemerintah terkait aturan pembelian BBM subsidi dan kemungkinan perubahan harga dalam beberapa bulan mendatang.









